Begitulah salah satu definisi hujan dari sumber yang gue baca.
Gue sendiri berpendapat lain mengenai hujan, tanpa memandang segi teknis hujan dan berdasarkan pengalaman. Hujan menurut gue ialah : Sesuatu (bukan Syahrini) berbentuk cairan yang jatuh ke bumi dan menciptakan suasana yang mengosongkan pikiran serta membentu kegalauan. Inilah yang menyebabkan banyak mahasiswa mengurungkan niatnya untuk kuliah ketika turun hujan. Ketika pikiran kosong tentunya memangkas keinginan untuk bergerak dan lebih memilih tidur.
Malam itu, di masa ujian akhir semester. Gue bersiap pulang dari rumah pacar, abis belajar bareng ceritanya. Tapi emang bener niat buat
Waktu menunjukan pukul 11 malam, akhirnya gue memutuskan untuk tetap pulang.
Memakai satu set jas hujan rasanya cukup untuk menghiraukan hujan yang membasahi tubuh gue saat berkendara motor, tapi nampaknya tidak berhasil menghiraukan konflik yang melanda pikiran gue daritadi.
Hujan turun semakin deras, selama gue hidup inilah Hujan Terderas yang pernah membasahi tubuh. Mungkin kata terderas ini keluar karena gue merasakan hujan itu pas tengah malam, jalanan sepi, banjir, dan gue lagi galau. Tiap orang pasti pernah merasakan galau dan tiap orang berhak galau pada waktunya. Menurut gue waktu yang tepat adalah sekarang, disaat hujan turun deras
dan gue sedang sendiri di jalan mengendarai motor. (Makna : Galaulah pada waktu yang tepat dan tidak mengganggu orang lain)
Semua konflik yang tadi gue alami mulai terputar kembali di video player otak gue. Lalu munculah perasaan-perasaan bersalah dari dalam diri. Timbul pertanyaan what,who,where,when,why and how ?
Kita (gue dan pacar) udah pacaran cukup lama, tapi kenapa sampai sekarang masih tetep ada saja konflik ?
Gue teringat sama quote yang gue baca dari twitter
When a couple fights too much but they're not breaking up, they're really in lovedan juga ...
Love isn't when there are no fights in the relationship, its when once the fight ends, love is still thereYak, konflik ini seharusnya membuat hubungan kita lebih kuat dari sebelumnya. Konflik yang datang tidak akan pernah berhenti, jika berhenti sudah pasti akan menjadi hubungan yang membosankan. Belum pernah ada hubungan yang terbebas dari konflik.
Satu hal yang perlu diingat, jangan biarkan konflik itu terus menerus bernaung dipikiran berlama-lama mengendap dan akhirnya menjadi beban, biarkan konflik itu berlalu dan ambil makna yang terkandung di dalamnya kemudian jangan biarkan konflik yang sama kembali terulang.
Sekitar 20 menit kemudian gue akhirnya sampe di kosan, jas hujan yang tadi kering kini basah kuyup. Gue langsung ngejemur jas hujan itu di depan kamar. Sandal kulit yang gue pake juga jadi basah dan pastinya nanti kalo udah kering mengeluarkan bau yang tidak sedap. Selamat bau kaki.
Setelah beres melakukan ritual malam sebelum tidur (cuci muka, gosok gigi, ganti baju) gue pun bersiap untuk tidur dengan ditemani suara hujan deras yang sayup-sayup terdengar mengguyur bumi.
Gue berusaha melupakan semua konflik yang dialami tadi, seperti halnya hujan. Sederas apapun hujan nantinya pasti akan terbit yang namanya cerah. Begitu juga konflik, sebesar apapun konflik yang datang pasti akan ada penyelesaiannya. Kita hanya tinggal menunggu.



No comments:
Post a Comment